Burung Air
Jakarta Green Monster :: Senin, 08/06/2009, 13:49 WIB
Burung merupakan salah satu kekayaan Indonesia. Saat ini diketahui terdapat 1539 spesies burung yang tercatat di Indonesia baik sebagai burung yang menetap maupun pendatang yang hanya singgah sementara. Sebagian diantaranya berupa burung air yang sering dijumpai di habitat lahan basah.
Konvensi Ramsar mendefinisikan burung air sebagai spesies burung yang secara ekologis kehidupannya bergantung kepada keberadaan lahan basah. Berpatokan kepada definisi tersebut, sampai saat ini di Indonesia telah tercatat sekitar 184 spesies burung air yang berasal dari 18 familia. Indonesia merupakan negara yang mempunyai keragaman burung air tertinggi di dunia. Sebagai perbandingan, di seluruh dunia terdapat 32 familia yang terdiri atas 833 spesies burung air. Keluarga raja udang (Alcedinidae) dan burung pemangsa (Falconiformes) tidak dikelompokkan ke dalam burung air karena sebagian besar tidak bergantung kepada lahan basah.
Ada beberapa istilah yang sering dipergunakan untuk beberapa kelompok burung air. ‘Wildfowl‘ merupakan nama untuk kelompok burung air liar dari familia Anatidae (bebek-belibis). Burung pantai (shorebirds, waders) merupakan kelompok burung air ‘perancah’ dengan ciri-ciri ukuran tubuh yang bervariasi antara kecil (13 em) hingga sedang (66 em), bentuk dan panjang paruh sangat beragam dan memiliki kemampuan berjalan (wading) di tempat lunak dan tergenang air (Howes & Bakewell, 1989).
Walaupun memiliki banyak persamaan morfologis kelompok burung yang hidup di laut tidak dikelompokkan ke dalam burung air, karena laut tidak dikategorikan sebagai lahan basah. Kelompok burung ini disebut burung laut (seabirds). Meskipun demikian, masih ditemui sejumlah tumpang tindih dalam pengelompokan burung menjadi burung air dan burung laut.
Habitat burung air
Kehidupan burung air sangat bergantung kepada keberadaan lahan basah. Beberapa tipe habitat lahan basah yang mereka sukai antara lain hutan mangrove dan hamparan lumpurnya, hutan rawa, rawa rumput/rawa herba dan sawah. Mereka menjadikan tempat-tempat tersebut untuk mencari makan, dan mempergunakan vegetasi yang tumbuh di situ sebagai tempat beristirahat dan berbiak.
Beberapa jenis burung air yang umum dijumpai di sawah adalah cangak, blekok, dan kuntul. Burung air yang sangat tergantung pada habitat hutan rawa adalah Mentok hutan (Cairina scutulata) dan Pelatuk besi bahu putih (Pseudibis davisoni).
Burung air dapat berfungsi sebagai indikator kesehatan lahan basah dan lingkungannya. Lahan basah yang rusak tidak akan mampu menyokong sejumlah besar populasi burung. Gangguan terhadap burung air serta fungsi yang dimilikinya telah menyebabkan kelompok ini sebagai obyek penelitian dan pengkajian yang panjang di seluruh dunia.

Burung air migran
Burung air pada dasarnya dibedakan menjadi dua bagian utama, yaitu burung air penetap dan burung air migran. Burung air penetap merupakan burung air yang mencari makan dan berkembang biak di Indonesia. Sedangkan burung migran adalah burung yang bermigrasi antara tempat berbiaknya di bagian Utara Asia dan Alaska menuju tempat mencari makan di Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, dan pulau-pulau di Pasifik Barat atau sebaliknya.
Antara bulan September dan Maret, daerah-daerah pantai di Indonesia disinggahi oleh ratusan ribu burung migran yang sebagian besar berasal dari familia Charadriidae dan Scolopacidae. Kelompok burung air ini tidak berkembang biak di sini, tetapi hanya menggunakan lahan basah Indonesia sebagai tempat untuk ”mengisi bensin” selama musim migrasi mereka. Kelompok burung tersebut berbiak di lokasi-Iokasi lahan basah pada saat musim panas di belahan bumi utara (Mei - Juli). Apabila masa tersebut telah lewat dan musim dingin akan datang (Agustus - September), mereka bermigrasi menuju daerah yang lebih hangat di bagian Selatan dan menghabiskan masa migrasinya dengan mencari makanan sebanyak-banyaknya, untuk kemudian kembali lagi ke lokasi berbiak yang akan menghadapi musim panas (Maret-Mei).
Peran ekologis burung air dan pelestariannya
Burung air diduga berperan penting pada pertukaran energi antara kehidupan di daratan dan di perairan, sehingga mungkin juga turut menentukan dinamika produktivitas biomassa lahan basah. Burung air,menyediakan sejumlah pupuk alam bagi vegetasi yang ada di pantai dan daerah-daerah yang lebih tinggi. Vegetasi ini sering menjadi stabilisator pantai terhadap erosi. Dengan cara itu, hewan ini juga dapat mempercepat suksesi yang terjadi di lahan basah.
Karena berada pada rantai makanan bagian atas, burung sangat peka terhadap polusi dan penurunan kondisi makanannya. Itulah sebabnya mengapa burung air dapat digunakan sebagai indikator untuk kedua kondisi tersebut (Buckley & Buckley, 1976). Duncan Parish (dalam Lansdown, 1986) mengatakan bahwa Bangau dan Kuntul, terutama spesies yang berkoloni, peka terhadap gangguan dan tekanan perburuan selama bersarang. Spesies ini juga sangat peka terhadap perusakan tempat bersarang, seperti pohon tinggi di hutan mangrove atau di lahan basah air tawar.
Sumber:
Nirarita, C.H.E. et al. 1996. Ekosistem Lahan Basah Indonesia. Buku Panduan untuk Guru dan Praktisi Pendidikan. Wetlands International-IP. Bogor




















mas boleh minta daftar pustakanya yang nirarita secara lengkap? terimakasi
assalamualaikum…mau munta pustaka tentang burung air yah,,,terutama yang di daerah sumatera..makasih,,,