Mengenal Monyet Ekor Panjang
Jakarta Green Monster :: Sabtu, 20/06/2009, 21:00 WIBMonyet ekor panjang yang biasa dikenal Macaca fascicularis karena atraksinya di pentas topeng monyet. Monyet ekor panjang merupakan satu-satunya primata yang menghuni hutan-hutan di pesisir Jakarta. Pada tahun 1970-an monyet ini masih banyak dijumpai di banyak tempat di Jakarta, seperti Ancol yang dahulu dikenal dengan sarang monyet. Seiring pembangunan di Jakarta membuat monyet-monyet ini tersingkir. Monyet-monyet di Angke merupakan kelompok terakhir yang tersisa di pesisir Jakarta.
Monyet ekor panjang biasa hidup berkelompok terdiri dari beberapa jantan dan betina. Monyet ekor panjang seperti jenis primata pada umumnya memiliki pembagian tingkatan sosial di dalam kelompoknya. Pejantan alfa (dominan) biasanya memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dan tegap dibandingkan dengan jantan lain di kelompoknya. Selain itu dia juga menguasai sumber daya makanan yang ada dan memiliki kebebasan untuk mengawini semua betina yang ada di dalam kelompoknya, yah jadi raja gitu deh.
Monyet ekor panjang hidup dengan mengkonsumsi pucuk-pucuk daun muda dan juga buah-buahan. Di Suaka Margasatwa Muara Angke, monyet ekor panjang memakan pucuk daun dan buah mangrove terutama pidada Sonneratia caseolaris. Oleh karena itu mereka memiliki peranan yang penting karena membantu penyebaran biji-bijian tumbuhan hutan. Ketika mereka mengkonsumsi buah buahan hutan, biji buah yang tak dapat dicerna akan dikeluarkan kembali bersama dengan fesesnya.
Namun jangan sekali-sekali memberi makan kepada monyet-monyet ini, karena mereka akan ketagihan dan ketika pengunjung lain datang mereka akan datang mendekat dan mungkin akan berani merampas makanan. Seperti yang sudah terjadi di Bali dan daerah Pangandaran, Jawa Barat. Terlihat menyedihkan kehidupan monyet-monyet tersebut di Angke, mereka mengais-ngais sampah demi mencari makan. Namun inilah realita kehidupan satwa liar di Ibu kota, dimana mereka mencoba bertahan di kerasnya kehidupan Jakarta.
Apa yang bisa kita lakukan? yang bisa kita lakukan bukan memberi makan mereka namun mencoba mengurangi sampah yang masuk ke dalam Angke agar mereka kembali menari makan buah pidada kesukaan mereka.



















